EPS3. Dolo Oseng : Baru Kenal Brontosaurus, Sudah Dibikin Nangis

EPS3. Dolo Oseng : Baru Kenal Brontosaurus, Sudah Dibikin Nangis

Ada hari ketika seorang anak tertawa begitu lepas sampai seluruh rumah ikut bahagia. Lalu ada malam ketika anak yang sama berdiri diam di sudut tembok, menangis tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Anehnya, semua itu terjadi hanya dalam waktu kurang dari dua belas jam.

Sejak Dolo mulai bersekolah, pagi mereka selalu terasa lebih hidup. Tidak lagi hanya tentang menyiapkan sarapan, TAPII…

membujuk seorang anak kecil agar mau berangkat sekolah tanpa drama yang terlalu panjang.

Memang, Dolo masih belum bisa benar-benar ditinggal sendirian di sekolah. Namun setidaknya kini kepanikannya tidak lagi meledak-ledak seperti minggu pertama. Bu Chi masih setia duduk di kursi plastik hijau di depan pintu kelas setiap hari. Kursi itu bahkan seperti sudah memiliki pemilik tetap. Para guru sampai bercanda bahwa Bu Chi pantas mendapat seragam karena jam hadirnya lebih disiplin daripada sebagian murid.

Seiring berjalannya waktu, guru-guru mulai mengenal sifat Dolo lebih dalam. Anak itu ternyata memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa besar. Ia selalu penasaran terhadap segala sesuatu. Ketika guru menjelaskan tentang hewan, Dolo menjadi anak yang paling semangat. Saat teman-temannya masih berpikir sebelum menjawab, tangan kecilnya sudah melambung tinggi lebih dulu agar terlihat, oleh karena itu dia suka duduk paling depan. Jawabannya pun sering benar. Kalaupun salah, biasanya karena pikirannya melompat terlalu jauh, membayangkan hal-hal yang bahkan belum dijelaskan, terlalu kreatif.

Mendengar cerita seperti itu, hati Bu Chi selalu terasa hangat. Semua rasa lelah duduk berjam-jam di depan kelas mendadak terasa tidak ada apa-apanya.

Malam harinya, ketika Pak Arto pulang bekerja dari perusahaan soda yang cukup besar, Bu Chi menceritakan semuanya sambil menyiapkan makan malam. Pak Arto mendengarkan dengan wajah yang awalnya lelah, perlahan berubah menjadi senyum bangga. Ia memang bukan tipe ayah yang pandai mengungkapkan perasaan. Namun setiap kali mendengar perkembangan baik tentang anaknya, sorot matanya selalu berbicara lebih banyak daripada kata-katanya.

"Wah... berarti Dolo makin pintar, ya." Ucap Pak Arto

"Iya. Bu Guru juga bilang dia mulai berani." Jawab Bu Chi

Pak Arto mengangguk pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kalau begitu besok kita kasih hadiah."

Bu Chi tersenyum.

"Hadiah apa?"

"Mainan."

Keputusan itu dibuat begitu saja, tanpa rapat keluarga, tanpa diskusi panjang. Bagi Pak Arto, pencapaian sekecil apa pun tetap pantas dirayakan. Ia ingin Dolo tahu bahwa setiap keberanian selalu layak dihargai.

Keesokan harinya, begitu bel pulang berbunyi, Pak Arto sudah menunggu di depan sekolah dengan motor tuanya menjemput Dolo dan Bu Chi. Motor itu sudah menemani keluarganya bertahun-tahun tapi kondisinya masih bagus, dan seringkali juga ditawar oleh orang asing yang melihatnya. Kecepatannya pun tidak pernah membuat orang iri. Lima puluh kilometer per jam rasanya sudah menjadi batas maksimal yang disepakati bersama oleh mesin dan pemiliknya, menurut Pak Arto bukan lamban, namun motornya sedang menikmati perjalanan.

Dolo melompat kecil lalu duduk di depan sambil memegang spidometer.

"Yah, kita mau ke mana?"

"Ke toko mainannn!!!" Pak Arto sambil tersenyum.

Motor pun melaju meninggalkan sekolah, melewati jalan desa yang diapit sawah-sawah hijau. Angin berembus pelan menerpa wajah Dolo. Anak kecil itu tampak sangat menikmati perjalanan. Kepalanya terus bergoyang ke kanan dan kiri mengikuti irama angin. Entah sejak kapan, ia mulai menyanyikan lagu favoritnya dengan suara yang begitu keras hingga beberapa petani di pinggir jalan ikut menoleh.

"Abang tukang bakso... mari mari sini..."

Pak Arto tertawa kecil lalu ikut bernyanyi.

"Aku mau beli..."

Dolo langsung menyambung tanpa menunggu ayahnya selesai.

"Bakso! ehh...mainannnn!!"

Kalimat terakhir diteriakkannya sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi, membuat Pak Arto buru-buru memegang tubuhnya agar tidak kehilangan keseimbangan.

"Eh... nanti jatuh!"

Dolo malah tertawa semakin keras.

Perjalanan yang hanya berlangsung sekitar setengah jam itu terasa begitu menyenangkan. Sampai akhirnya motor tua mereka berhenti di depan sebuah toko besar yang selama ini hanya didengar Dolo dari cerita teman-temannya di sekolah. Bangunannya menjulang tiga lantai, kaca depannya penuh warna, ratusan mainan tersusun rapi.

Ada robot, mobil-mobilan, boneka, pesawat, pistol air, action figure pahlawan, hingga rak-rak panjang berisi hewan-hewan berbahan karet.

Begitu pintu toko dibuka, Dolo langsung berhenti melangkah. Matanya membulat, mulutnya sedikit terbuka. Ia benar-benar tidak tahu harus melihat ke mana lebih dulu.Pak Arto sengaja membiarkannya menikmati semua itu. Tidak ada yang mengajak buru-buru. Dolo berjalan pelan dari satu lorong ke lorong lain. Sesekali ia berhenti cukup lama di depan robot besar, lalu berpindah ke rak mobil balap, kemudian berlari kecil melihat pesawat yang bisa mengeluarkan suara. Namun setiap kali hendak mengambil satu mainan, ia berubah pikiran dan berjalan lagi.

Semakin lama berkeliling, justru semakin bingung.

Pak Arto hanya mengikuti dari belakang sambil menahan senyum. Baginya, melihat wajah Dolo yang dipenuhi rasa kagum sudah menjadi hadiah tersendiri. Hampir dua puluh menit mereka berputar-putar sebelum akhirnya langkah Dolo benar-benar berhenti di depan rak hewan. Tangannya langsung mengambil satu kotak berisi dinosaurus karet.

Di dalamnya ada Tyrannosaurus Rex, Triceratops, Stegosaurus, Pteranodon, Ankylosaurus, dan seekor Brontosaurus berleher panjang.

Tanpa berpikir lama, kotak itu langsung dipeluk erat.

"Yah... aku mau ini."

Pak Arto mengangguk mantap.

"Ya sudah. Berarti ini yang pulang sama kita."

Saat menuju kasir, tanpa sepengetahuan Dolo, Pak Arto diam-diam ikut mengambil satu kotak Nintendo Switch.

Ketika Bu Chi melihatnya, ia hanya mengangkat alis.

"Itu juga buat Dolo?"

Pak Arto berdeham pelan.

"Iya... ya... buat dimainkan bareng."

Bu Chi hanya tertawa pelan. Ia tahu betul siapa yang kemungkinan akan lebih sering memainkan benda itu nanti, karena Pak Arto sering sekali menceritakan masa lalunya yang punya banyak teman karena pandai bermain game kelereng Waktu itu dan menjadi ketua geng, harapannya Dolo juga bisa seperti itu, bisa berteman dengan banyak teman karena pandai banyak hal.

Sesampainya di rumah, tebakan Bu Chi langsung terbukti. Nintendo Switch bahkan dibuka lebih dulu daripada dinosaurus. Pak Arto awalnya hanya berniat mengajari Dolo cara memainkan kontrol. Namun beberapa menit kemudian justru terdengar suara ayahnya yang paling semangat.

"Ayo, Dol! Belok! Belok!"

"Yah! Jangan tabrak aku!"

"Lho, tadi kamu yang nabrak Ayah!"

Suara tawa keduanya memenuhi ruang tamu hingga menjelang sore.

Barulah ketika matahari mulai condong ke barat, Dolo membuka kotak dinosaurusnya. Satu per satu dinosaurus itu dikeluarkan dengan hati-hati, lalu dijajarkan rapi di lantai. Ia mengamati semuanya dengan sangat serius, seolah sedang memperkenalkan anggota keluarga baru. Dari semua dinosaurus itu, ada satu yang langsung mencuri hatinya.

Brontosaurus.

Entah karena lehernya yang panjang atau wajahnya yang terlihat ramah, sejak pertama kali dipegang Dolo langsung memutuskan bahwa Brontosaurus adalah favoritnya.

Sejak saat itu, ke mana pun Dolo pergi, Brontosaurus selalu ikut.

Diajak berjalan ke halaman.

Ikut melihat Bu Chi memasak di dapur, sambil memegang leher panjangnya.

Dibawa ke kamar mandi.

Bahkan ketika dimasukkan ke dalam bak berisi air dan ternyata mengapung, Dolo langsung tertawa bahagia sambil berkata bahwa Brontosaurusnya sedang berenang.

Tak ada seorang pun yang membantah, karena di dunia anak-anak, imajinasi selalu lebih nyata daripada logika.

Sore itu rumah kembali ramai karena kakak Dolo, Bernama Kak Tia Seroja sedang sibuk menyiapkan perlengkapan Persami suatu kegiatan camping sekolahnya berdurasi 3 hari 2 malam. Ia melipat pakaian, memasukkan senter, botol minum, buku catatan, dan berbagai kebutuhan lain ke dalam tas besarnya. Pak Arto ikut membantu mengecek barang-barang, sementara Bu Chi mondar-mandir menyiapkan bekal.

Di tengah kesibukan itu, Dolo masih terus bermain dinosaurus di sekitar ruang tamu. Brontosaurus kecil itu beberapa kali berpindah tempat. Kadang ditaruh di lantai, kadang di atas sofa, kadang di dekat tas Kak Tia. Tak ada yang benar-benar memperhatikan.

Sampai malam tiba.
sebelum tidur Dolo mulai mengumpulkan semua dinosaurusnya.

Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima...

Ia berhenti menghitung.

Brontosaurus tidak ada.

Awalnya ia masih tenang. Ia yakin mainan itu hanya berpindah tempat. Namun setelah seluruh ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga halaman depan diperiksa berkali-kali dan hasilnya tetap kosong, wajah kecilnya mulai berubah. Senyum yang sejak siang menghiasi wajahnya perlahan menghilang.

Ia berdiri diam.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Lalu air mata jatuh begitu saja tanpa suara.

Tangisan Dolo malam itu bukan tangisan yang keras. Justru sebaliknya. Ia hanya berdiri memandangi lantai sambil terus menangis. Air matanya mengalir deras tanpa henti. Bu Chi mencoba menggendongnya, tetapi Dolo hanya menggeleng pelan. Ia tidak mau duduk, tidak mau dipeluk, hanya berdiri di sudut tembok sambil berharap Brontosaurusnya tiba-tiba muncul kembali.

Barulah setelah mengingat-ingat kejadian sore tadi, Pak Arto tersentak. Kemungkinan besar Brontosaurus kecil itu tanpa sengaja ikut masuk ke dalam tas Persami milik Kak Tia.

Artinya, dinosaurus kesayangan Dolo sedang ikut berkemah... dan baru akan pulang dua hari lagi. Bagi orang dewasa, dua hari hanyalah sebentar. Namun bagi Dolo yang baru beberapa jam berteman dengan Brontosaurus itu, adalah bencana besar, dua hari terasa seperti waktu yang sangat, sangat lama.

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy