Momentum Hari Kartini tahun ini dimaknai berbeda oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Bukan sekadar perayaan simbolik, tetapi menjadi titik tekan baru dalam mendorong peran perempuan sebagai garda terdepan di sektor gastronomi, khususnya dalam menjaga standar higienitas dan kualitas kuliner nasional.
Di tengah persaingan pariwisata global yang semakin ketat, pengalaman kuliner kini menjadi salah satu penentu utama kepuasan wisatawan. Menyadari hal tersebut, Kemenpar menaruh perhatian serius pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama perempuan yang selama ini memiliki peran besar dalam rantai industri makanan, mulai dari dapur rumahan hingga restoran dan hotel berbintang.
Asisten Deputi Bidang Manajemen Strategis Kemenpar, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, menegaskan bahwa kompetensi penjamah makanan atau food handler menjadi faktor krusial dalam menjamin keamanan pangan. Standar higienitas yang baik, menurutnya, tidak hanya berdampak pada kesehatan konsumen, tetapi juga membentuk citra destinasi wisata secara keseluruhan.
āPelatihan terkait higiene personal, sanitasi fasilitas, serta penanganan makanan yang aman harus menjadi prioritas utama,ā ujarnya dalam keterangan di Bandung.
Upaya ini diperkuat melalui penyelenggaraan forum diskusi strategis bertajuk Peran Perempuan dalam Strategi Pengembangan Wisata Gastronomi Indonesia yang digelar di Politeknik NHI Bandung. Forum tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri untuk merumuskan langkah konkret dalam meningkatkan kualitas SDM gastronomi.
Namun, Kemenpar tidak hanya berhenti pada aspek higienitas. Transformasi industri pariwisata juga menuntut pendekatan yang lebih luas, termasuk penerapan prinsip keberlanjutan. Konsep ini mencakup penggunaan bahan lokal, efisiensi energi, pengelolaan limbah, hingga pengurangan food waste yang kini menjadi standar baru dalam industri hospitality global.
Pendekatan tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional yang mengedepankan konsep green gastronomy. Artinya, produk kuliner Indonesia tidak hanya harus aman dikonsumsi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan. Integrasi antara higienitas dan keberlanjutan inilah yang diyakini mampu menciptakan nilai tambah bagi destinasi wisata kuliner Indonesia.
Lebih jauh, penguatan SDM, khususnya perempuan diharapkan memberikan dampak berlapis. Tidak hanya meningkatkan daya saing destinasi gastronomi di tingkat global, tetapi juga menghadirkan pengalaman kuliner yang autentik, aman, dan berstandar internasional bagi wisatawan.
Peran perempuan dalam ekosistem ini pun semakin strategis. Mereka tidak hanya menjadi pelaku, tetapi juga penggerak utama dalam menjaga kualitas, inovasi, hingga keberlanjutan kuliner lokal. Dari dapur tradisional hingga industri modern, kontribusi perempuan menjadi fondasi penting dalam membangun identitas gastronomi Indonesia.
Melalui pelatihan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, Kemenpar optimistis Indonesia mampu menciptakan ekosistem gastronomi yang kuat dan berdaya saing. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari visi besar menuju Indonesia Emas 2045, di mana pariwisata tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan.
Dengan demikian, semangat Kartini masa kini tidak lagi hanya tentang emansipasi, tetapi juga tentang kualitas, profesionalisme, dan peran nyata perempuan dalam mengangkat citra pariwisata Indonesia di mata dunia.