EPS2. Dolo Oseng : Ibuu Jangan Hilang!!

EPS2. Dolo Oseng : Ibuu Jangan Hilang!!

Hari pertama sekolah seharusnya jadi awal kemandirian… tapi tidak untuk Dolo. Setiap kali ibunya hilang dari pandangan, dunia Dolo langsung runtuh dan dia akan berlari mencarinya tanpa pikir panjang. Sampai akhirnya, di tengah hujan deras, seorang anak kecil membuktikan: rumah bukan tempat… tapi seseorang.

Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin Dolo Oseng masih belajar berjalan sambil mengejar anak ayam di halaman rumah. Kini bocah berambut acak dengan pipi bulat itu telah genap berusia lima tahun. Hari yang selama ini ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, hari pertama Dolo masuk taman kanak-kanak. Sejak subuh, Bu Chi sudah sibuk mondar-mandir di dalam rumah. Sesekali ia membuka kembali tas sekolah Dolo ;

Memastikan kotak bekal
botol minum
baju ganti
hingga sapu tangan kecil sudah berada di tempatnya. 

Padahal semua itu sudah ia cek berkali-kali sejak semalam.

"Masih ada yang ketinggalan nggak ya?" gumamnya pelan sambil mengintip isi tas sekali lagi.

Dolo yang sedang berdiri di depan cermin sama sekali tidak memperhatikan kegelisahan ibunya. Perhatiannya hanya tertuju pada tas baru bergambar hiu yang sejak kemarin menjadi benda paling berharga di dunia, ketertarikan dengan dunia hewan sudah muncul sejak kecil. Ia memutar tubuh ke kanan dan ke kiri sambil tersenyum bangga.

"Bu Chi, Dolo keren nggak, Dolo keren nggak, Dolo keren nggaaakkkkk?"

Bu Chi menoleh lalu tertawa kecil. "Keren banget, nak."

"Hiu itu hebat, Bu. Hiu nggak takut sama siapa-siapa."

"Iya, tapi nanti jangan gigit temanmu di sekolah ya."

Dolo langsung tertawa terbahak-bahak. "Dolo kan bukan hiu beneran, masih kecil. Baby shark dududu."

Tawa kecil itu membuat suasana pagi terasa hangat. Di dalam hati, Bu Chi ikut merasa bahagia. Setelah lima tahun hampir setiap detik dihabiskan menemani Dolo bermain, mengejar kupu-kupu, membuat rumah berantakan, hingga berkali-kali memasak ulang makanan yang keburu dicicipi sebelum matang, akhirnya hari ini ia memiliki rutinitas baru. Ia membayangkan setelah mengantar Dolo ke sekolah, dirinya bisa pulang sebentar, memasak bakso dengan tenang, menikmati segelas teh hangat, rebahan menonton Dracin terbaru lalu menghela napas tanpa ada suara kecil yang memanggil, "Bu Chiii..." setiap lima menit sekali. Tiga jam saja sudah terasa seperti hadiah besar.

Sekitar pukul setengah delapan, halaman sekolah telah dipenuhi orang tua yang mengantar anak-anak mereka. Suasananya begitu meriah. Ada anak perempuan dengan rambut penuh pita warna-warni, ada yang memakai sepatu menyala setiap melangkah, ada pula yang membawa tas berbentuk unicorn. Dolo pun tidak mau kalah. Dengan tas hiu yang hampir sebesar badannya, ia berjalan sambil sesekali menunjukkan gambar hiu itu kepada siapa pun yang lewat, meski tidak semua orang memperhatikannya.

"Wah, tasnya hiu ya?" sapa seorang guru.

Dolo mengangguk bangga. "Soalnya hiu keren."

Guru itu tersenyum. "Semoga nanti belajarnya juga sekeren hiunya."

Tak lama kemudian seluruh murid baru, sekitar enam puluh anak, dikumpulkan di lapangan. Mereka diajak bernyanyi, bertepuk tangan, dan saling memperkenalkan diri. Setelah kegiatan selesai, salah seorang guru memberikan pengumuman kepada para orang tua.

"Hari ini sekolah selesai pukul sepuluh lewat tiga puluh ya, Ayah dan Bunda."

Bu Chi mengangguk pelan sambil tersenyum. "Cepat juga," pikirnya. "Masih sempat pulang masak bakso."

Bel berbunyi menandakan kegiatan belajar akan dimulai. Anak-anak mulai diarahkan masuk ke kelas masing-masing. Ada yang langsung berlari mencari tempat duduk, ada yang masih menangis memeluk orang tuanya, dan ada pula yang sibuk melihat mainan di sudut ruangan. Bu Chi sebenarnya sudah hendak pulang, tetapi langkahnya tertahan. Ia ingin melihat Dolo sebentar lagi. Kebetulan pintu kelas masih terbuka sehingga ia bisa mengamati dari luar.

Dolo berjalan mengelilingi kelas beberapa saat sebelum akhirnya memilih bangku paling depan, tepat lurus menghadap pintu. Dari tempat duduk itu, wajah Bu Chi terlihat jelas. Bocah itu melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.

"Dadah, Bu Chi."

"Dadah, sayang. Belajar yang rajin ya." 
"Wahh, pilih duduk didepan sendiri, pinter banget." lanjutnya

Merasa semuanya baik-baik saja, Bu Chi pun mulai berjalan menuju gerbang sekolah. Namun baru beberapa langkah, terdengar suara yang membuat seluruh halaman sekolah menoleh.

"BUUUU CHIIIIII!"

Bu Chi belum sempat membalikkan badan ketika Dolo sudah berlari sekencang-kencangnya dan memeluk kakinya erat-erat. Bu Chi sempat terharu. Ia mengira Dolo hanya ingin memberikan pelukan terakhir sebelum benar-benar masuk kelas.

"Ya ampun, anak Bu Chi ternyata kangen duluan ya?" katanya sambil mengusap kepala Dolo.

Dolo tidak menjawab. Ia hanya memastikan Bu Chi masih ada di depannya.

Bu Chi kembali menggandeng tangan Dolo menuju kelas. Wajah bocah itu sudah kembali tenang, seolah tidak pernah berlari keluar beberapa detik sebelumnya. Sesampainya di bangku paling depan, Dolo langsung duduk rapi sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja. Sebelum guru memulai pelajaran, ia sempat menoleh ke arah pintu untuk memastikan satu hal.

Bu Chi masih berdiri di sana.

Begitu mata mereka bertemu, Dolo tersenyum puas lalu kembali memperhatikan Bu Guru yang mulai memperkenalkan warna-warna menggunakan balok kayu. Melihat semuanya berjalan normal, Bu Chi menarik napas lega. Dalam hati ia berpikir, mungkin memang hanya butuh sedikit waktu bagi Dolo untuk beradaptasi. Perlahan ia mulai melangkah meninggalkan kelas.

Namun baru beberapa langkah, terdengar suara kursi bergeser cukup keras dari dalam ruangan. Belum sempat Bu Chi menoleh, langkah-langkah kaki kecil sudah berlari menyusulnya.

"Bu Chiii... tunggu..."

Dolo kembali memeluk kaki ibunya dengan napas terengah-engah. Wajahnya tidak menangis, tetapi sorot matanya penuh kepanikan, seolah Bu Chi benar-benar akan menghilang jika terlambat dipeluk.

Guru yang melihat kejadian itu masih mencoba tersenyum.

"Enggak apa-apa, Bu. Biasanya anak hari pertama memang begitu."

Bu Chi mengangguk pelan, meski dalam hati mulai muncul tanda tanya. Untuk kedua kalinya ia mengantar Dolo kembali ke kelas. Kali ini ia sengaja tidak langsung pergi. Ia berdiri beberapa menit di depan pintu sambil memperhatikan dari luar. Dolo kembali duduk, menggambar, bahkan sempat tertawa ketika melihat temannya salah memegang krayon.

"Sudah aman," pikir Bu Chi.

Ia kembali berbalik.

Dan untuk ketiga kalinya...

Dolo kembali berlari.

Kali ini bukan hanya guru yang terkejut. Beberapa orang tua yang masih berada di halaman sekolah ikut menoleh karena mendengar suara langkah kecil yang begitu tergesa-gesa.

"Bu Chi jangan pergi..."

Kalimat itu diucapkan dengan napas yang terputus-putus. Bukan rengekan, melainkan permintaan yang terdengar begitu tulus hingga membuat Bu Chi sendiri bingung harus menjawab apa.

Barulah setelah hampir sejam mencoba berbagai cara, guru mulai menyadari pola yang tidak dimiliki murid lain. Selama Bu Chi masih terlihat dari bangkunya, Dolo bisa mengikuti semua kegiatan seperti anak-anak lain. Ia mau bernyanyi, menggambar, menyusun balok, bahkan sesekali mengobrol dengan teman di sebelahnya. Akan tetapi, detik Bu Chi keluar dari pandangannya, seluruh perhatian Dolo langsung buyar. Kepalanya otomatis menoleh ke pintu, matanya mencari-cari sosok yang paling dikenalnya, lalu tanpa berpikir panjang ia akan berlari keluar kelas.

Akhirnya guru meminta Bu Chi duduk di sebuah kursi plastik tepat di depan pintu kelas, dimana semua orang tua lain sudah pulang. Posisi kursi itu persis sejajar dengan bangku Dolo, sehingga setiap kali mengangkat kepala, hal pertama yang dilihat Dolo adalah wajah ibunya.

Aneh memang.

Namun cara itu berhasil.

Selama hampir satu jam berikutnya, kelas berlangsung sangat tenang. Dolo mewarnai gambar ikan, menyanyikan lagu tentang pelangi, lalu mendengarkan cerita Bu Guru dengan penuh perhatian. Sesekali ia mengangkat kepala hanya untuk memastikan Bu Chi masih berada di tempatnya. Begitu melihat ibunya tersenyum, ia kembali melanjutkan aktivitas seolah tidak terjadi apa-apa.

Salah seorang guru bahkan berbisik pelan kepada rekannya sambil menahan tawa.

"Kayaknya bukan cuma Dolo yang sekolah."

"Bu Chi juga resmi jadi murid."

Bu Chi hanya membalas dengan senyum kecil. Punggungnya mulai terasa pegal karena duduk terlalu lama, tetapi ia belum berani bergerak sedikit pun. Bahkan ketika ingin mengambil botol minum yang diletakkan beberapa langkah di samping kursi, ia mengurungkan niatnya karena khawatir Dolo kembali panik.

Masalah berikutnya datang tanpa bisa ditunda.

Langit yang sejak pagi cerah mendadak berubah gelap. Angin bertiup cukup kencang hingga daun-daun di halaman sekolah beterbangan. Tak lama kemudian hujan turun deras disertai suara gemuruh yang memenuhi udara.

Jantung Bu Chi langsung berdegup lebih cepat.

"Astaga... jemuran."

Pagi tadi ia menjemur hampir semua pakaian keluarga. Seragam sekolah cadangan Dolo, handuk, hingga beberapa baju kerja Pak Arto masih tergantung di halaman rumah.

Kalau hujan seperti ini terus turun, semuanya pasti basah.

Bu Chi mendekati guru dengan wajah serba salah.

"Bu... rumah saya dekat dari sini. Saya pulang sebentar buat angkat jemuran. Lima menit saja."

Guru melirik ke arah Dolo yang saat itu sedang sibuk mewarnai.

"Silakan saja, Bu. Nanti kami coba alihkan perhatiannya."

Bu Chi mengangguk lalu berlari kecil meninggalkan sekolah.

Awalnya semuanya tampak baik-baik saja.

Dolo masih fokus memberi warna biru pada gambar ikan. Namun beberapa menit kemudian, seperti ada alarm kecil di dalam dirinya yang berbunyi. Ia mendongakkan kepala ke arah pintu.

Kursi plastik itu kosong.

Ia berkedip beberapa kali.

Mungkin Bu Chi hanya pindah sedikit.

Matanya bergerak ke kanan.

Tidak ada.

Ke kiri.

Tetap tidak ada.

Wajah kecilnya perlahan berubah pucat.

"Bu Guru..."

Guru menghampiri sambil tersenyum.

"Iya, Dolo?"

"Bu Chi ke mana?"

"Sebentar ya, Nak."

Jawaban itu ternyata tidak cukup menenangkan. Dolo kembali melihat ke arah pintu, berharap sosok yang dicarinya muncul. Namun yang terlihat hanya hujan yang turun semakin deras.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melompat turun dari kursinya.

Guru baru menyadari apa yang akan terjadi ketika Dolo sudah mencapai pintu kelas.

"Dolo... tunggu!"

Namun bocah itu berlari secepat yang ia bisa, menerobos halaman sekolah yang mulai basah. Guru, satpam, bahkan beberapa orang tua spontan ikut mengejar, tetapi kaki kecil Dolo seperti tahu persis ke mana ia harus pergi.

Baginya, hanya ada satu tempat yang mungkin didatangi Bu Chi.

Rumah.

Dan benar saja, beberapa menit kemudian Bu Chi yang sedang sibuk mengangkat jemuran dikejutkan oleh pelukan kecil dari belakang.

"Bu Chi..."

Suara itu bercampur isak tangis.

Saat menoleh, ia melihat Dolo berdiri dengan seragam yang basah kuyup, tas hiunya ikut basah karena hujan, sementara napasnya masih tersengal setelah berlari cukup jauh dari sekolah.

"Dolo pikir... Bu Chi hilang."

Kalimat sederhana itu membuat Bu Chi terdiam. Ia langsung memeluk anaknya erat-erat, sementara di kejauhan guru dan satpam datang sambil terengah-engah. Hari pertama sekolah yang semula dibayangkan akan menjadi awal kemandirian Dolo justru berubah menjadi hari ketika semua orang menyadari satu hal: bagi Dolo, dunia akan terasa aman hanya jika Bu Chi masih berada di dalam pandangannya, namun bagi Bu Chi, gundah akan kejadian ini apakah akan berulang selama 1 tahun kedepan.

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy