EPS6. Dolo Oseng : Teman Kecil Berkuncir Dua

EPS6. Dolo Oseng : Teman Kecil Berkuncir Dua

Kadang, kenangan yang paling lama tersimpan bukan berasal dari kejadian besar. Justru hal-hal sederhana yang terjadi setiap pagi di ruang kelas bisa menetap di hati hingga bertahun-tahun. Itulah yang tanpa sadar dialami Dolo saat masih duduk di bangku TK.

Bu Guru bahkan pernah berkata sambil tersenyum kepada Bu Chi,

"Dolo itu kecil badannya, Bu. Tapi kalau disuruh jadi ketua kelompok, teman-temannya pasti nurut."

Bu Chi hanya tersenyum bangga.

Di balik tubuh mungilnya, ternyata Dolo memang punya jiwa memimpin. Ia pandai mengajak teman bekerja sama, kreatif mencari solusi, dan yang paling penting... suka membuat orang lain tertawa.
Kalau orang bertanya, "Apa yang paling diingat Dolo saat TK?" jawabannya bukan pelajaran berhitung, bukan juga hafalan lagu anak-anak. Yang paling membekas justru adalah orang-orang yang pernah mengisi hari-harinya. Teman yang menangis karena kehilangan bekal, teman yang diam-diam berak di celana saat pelajaran, sampai guru yang hafal semua tingkah muridnya hanya dari suara langkah kaki di lorong kelas. Tak terasa, hampir satu tahun Dolo menjalani masa-masa di taman kanak-kanak. Anak kecil yang selalu memastikan Bu Chi masih duduk menunggunya di luar kelas hingga sekarang. Setiap beberapa menit sekali matanya masih suka melirik ke arah jendela, sekadar memastikan Bu Chi masih ada di bangku kayu dekat taman sekolah.

Selama satu tahun itu, Dolo mulai dikenal hampir semua murid. Aneh memang. Padahal kalau di rumah Dolo termasuk anak yang introvert. Ia tidak banyak bicara kalau tidak ditanya. Namun begitu berada di sekolah, entah bagaimana caranya selalu saja ada teman yang ingin bermain bersamanya. Mungkin karena Dolo tidak pernah pilih-pilih teman. Hari ini bermain mobil-mobilan dengan Bimo, besok membantu Rian menyusun balok, lusa menemani Sasa menggambar kupu-kupu. Kalau ada teman yang bertengkar, Dolo pula yang sering berdiri di tengah sambil berkata,

"Udah... gantian aja."

Kalimat sederhana itu sering berhasil menghentikan perang rebutan mainan. Bu Guru bahkan pernah berkata kepada Bu Chi saat jam pulang sekolah.Ā 
Suatu hari ketika seluruh kelas sedang menggambar buah-buahan, tiba-tiba terdengar suara pelan dari pojok kelas.

"Prrrtttt..."

Semua anak saling memandang. Beberapa detik kemudian terdengar suara lirih,

"Bu Guru..."

"Iya, Nak?"

"Aku... kayaknya berak."

Seketika satu kelas pecah. Ada yang menutup hidung sambil berteriak, "Ih bauuu..." Ada yang menjauh, ada pula yang tertawa sampai memegang perut. Bu Guru buru-buru menghampiri anak itu sambil menahan senyum. Di tengah kekacauan kecil itu, Dolo malah mendekat dan menepuk pelan bahu temannya.

"Gapapa kok... aku juga dulu pernah pipis di celana."

Padahal sebenarnya tidak pernah. Ia hanya tidak ingin temannya merasa malu sendirian. Bu Guru sempat mendengar ucapan itu dan tersenyum. Dalam hati beliau tahu, Dolo sedang mencoba menyelamatkan harga diri temannya dengan caranya sendiri. Namun di antara puluhan teman di kelas, ada satu anak yang tanpa sadar selalu berhasil mencuri perhatian Dolo. Namanya Gustin. Dolo sendiri tidak tahu kenapa. Setiap pagi saat Gustin masuk kelas, matanya otomatis mengikuti langkah kecil anak perempuan itu. Rambutnya dikuncir dua di kanan dan kiri dengan karet warna-warni yang hampir setiap hari berganti. Kadang merah, kadang kuning, kadang hijau, kadang pelangi. Jepit rambut berbentuk bunga atau kupu-kupu selalu menghiasi kepalanya. Anting kecil berbentuk stroberi bergoyang setiap kali ia tertawa. Ia juga membawa tas kecil berbentuk unicorn berwarna ungu muda yang diseret pelan hingga rodanya berbunyi,

"Kretek... kretek... kretek..."

Yang paling membuat Dolo kagum justru sepatunya. Setiap melangkah, lampunya berkedip warna-warni.

"Kelap... kelip... kelap... kelip..."

Pernah suatu saat pulang sekolah, Dolo sengaja berjalan sedikit lebih lambat. Bukan karena lelah, tetapi karena diam-diam ingin melihat lampu sepatu Gustin terus menyala sampai gerbang sekolah. Dalam hati ia bergumam, "Keren ya... kalau nanti punya sepatu begitu pasti Dino Brontosaurus juga suka." Pikiran anak kecil memang sering kali sederhana dan menggemaskan. Selain penampilannya yang lucu, Gustin juga dikenal sebagai salah satu murid paling pintar di kelas. Kalau Bu Guru bertanya warna pelangi, ia hafal. Kalau berhitung, tangannya selalu paling cepat terangkat. Bahkan saat pelajaran bahasa Inggris sederhana, ia sering menjawab lebih dulu. Dolo diam-diam kagum. Bukan kagum seperti orang dewasa yang mengenal cinta, melainkan kagum karena merasa menemukan teman yang hebat. Ia hanya ingin lebih sering bermain dan mengobrol dengannya.

Sayangnya, Dolo terlalu malu untuk memulai percakapan tanpa alasan. Maka ia menciptakan alasan-alasan kecil.

"Gustin..."

"Iya?"

"Boleh pinjam penghapus?"

"Boleh."

Padahal di kotak pensil Dolo ada tiga penghapus. Hari lain ia kembali mencari alasan.

"Gustin."

"Hmm?"

"Kemarin libur ke mana?"

"Ke rumah nenek."

"Nenekmu punya ayam?"

"Punya."

"Kalau kambing?"

"Hahaha... nggak."

Obrolannya hanya beberapa menit, bahkan kadang tidak sampai satu menit. Tetapi entah kenapa, Dolo selalu merasa senang setelahnya.

Suatu hari Bu Guru membagi kelompok presentasi. Kebetulan Dolo dan Gustin berada dalam kelompok yang sama. Tugas mereka memperkenalkan gambar hewan di depan kelas. Dolo bertugas menyebutkan nama hewan dalam bahasa Indonesia, sedangkan Gustin menyebutkan bahasa Inggrisnya.

Dolo mengangkat gambar pertama.

"Gajah!"

Seluruh kelas menjawab bersama.

Gustin melanjutkan,

"Elephant."

Berikutnya Dolo mengangkat gambar harimau.

"Harimau!"

"Tiger."

Teman-teman bertepuk tangan riuh. Bahkan Bu Guru ikut tersenyum bangga.

"Wah, partner presentasi yang hebat."

Dolo hanya menggaruk kepala sambil tersenyum malu. Sepanjang perjalanan pulang ia terus mengingat pujian itu. Sesampainya di rumah, ia langsung mencari Bu Chi yang sedang menyiram tanaman.

"Bu Chi..."

"Iya?"

"Tadi Dolo sama Gustin presentasi."

"Wah hebat."

"Gustin pinter bahasa Inggris."

Bu Chi mengusap kepala Dolo sambil tersenyum.

"Kalau begitu Dolo juga harus rajin belajar."

"Iya."

"Supaya apa?"

"Supaya pinter."

"Bukan supaya ngejar Gustin ya."

Dolo langsung salah tingkah.

"Ih... Bu Chi..."

Bu Chi tertawa kecil melihat pipi anaknya mulai memerah. Baginya itu hanyalah kekaguman polos seorang anak kecil kepada temannya. Tidak lebih.

Hari-hari pun terus berjalan. Mereka tetap belajar, menggambar, bermain plastisin, menyusun balok, dan sesekali berebut mainan seperti anak TK pada umumnya. Namun suatu pagi, bangku Gustin kosong. Dolo mengira temannya itu sedang sakit. Hari berikutnya bangku itu masih kosong. Ia berpikir mungkin sedang diajak orang tuanya ke rumah nenek. Tiga hari berlalu, seminggu berlalu, bahkan dua minggu berlalu, tas unicorn itu tidak pernah terlihat lagi. Sepatu lampu yang selalu berkedip juga tidak pernah melintas di depan kelas.

Setiap pagi tanpa sadar mata Dolo selalu menoleh ke bangku kosong itu. Sampai akhirnya ia memberanikan diri bertanya kepada Bu Guru.

"Bu..."

"Iya Dolo?"

"Gustin kapan masuk lagi?"

Bu Guru terdiam sesaat sebelum menjawab dengan suara lembut.

"Gustin sudah pindah sekolah, Nak."

"Pindah?"

"Iya. Ayahnya pindah kerja ke kota lain, jadi Gustin ikut."

Dolo hanya mengangguk pelan.

"Oh..."

Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Namun sepanjang pelajaran hari itu, bangku kosong di pojok kelas terasa berbeda. Tidak ada lagi suara roda tas unicorn yang berisik. Tidak ada lagi lampu sepatu yang berkedip. Tidak ada lagi anak kecil berkuncir dua yang selalu semangat menjawab bahasa Inggris.

Sepulang sekolah, Dolo berjalan lebih pelan dari biasanya. Bu Chi yang menggandeng tangannya langsung menyadari perubahan itu.

"Kok diam saja?"

"Gustin pindah sekolah."

"Oh..."

Bu Chi mengangguk pelan.

"Sedih?"

"Iya... sedikit."

Bu Chi tersenyum.

"Nak, teman itu tidak harus selalu bersama setiap hari."

Dolo mendongak.

"Maksudnya?"

"Kadang Tuhan mempertemukan seseorang hanya sebentar supaya kita belajar sesuatu yang baik darinya."

"Lalu nanti ketemu lagi?"

"Bisa jadi."

"Kapan?"

Bu Chi menggeleng pelan.

"Nggak ada yang tahu. Tapi kalau memang berjodoh sebagai teman, suatu hari nanti pasti dipertemukan lagi."

Dolo memikirkan kata-kata itu sepanjang perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, ia mengambil buku gambar dan kotak krayon. Dengan serius ia menggambar seorang anak perempuan berkuncir dua, memakai tas unicorn, dengan sepatu yang mengeluarkan cahaya kecil di bagian bawahnya. Gambarnya memang masih sederhana, tetapi cukup membuat Bu Chi langsung tahu siapa yang sedang digambar.

Di sudut kanan bawah, Dolo menulis dengan huruf-huruf yang masih belum rapi,

"Teman Pintar."

Bu Chi mengusap pelan kepala Dolo lalu berkata,

"Nak, mengagumi teman yang baik dan pintar itu boleh. Jadikan mereka penyemangat supaya kamu juga rajin belajar. Tapi ingat, sekarang tugas Dolo adalah bermain, belajar, membanggakan orang tua, dan menjadi anak yang baik."

Dolo mengangguk mantap.

"Iya pasti, Bu Chi."

Sejak hari itu, Dolo tidak pernah lagi melihat Gustin di sekolah. Namun setiap kali mendengar seseorang berbicara bahasa Inggris, melihat tas unicorn, atau menemukan sepatu anak yang lampunya berkedip saat berjalan, ia selalu teringat pada teman kecil yang pernah membuat hari-hari di taman kanak-kanaknya terasa sedikit lebih berwarna. Kadang, bukan karena seseorang tinggal lama dalam hidup kita, melainkan karena ia datang di waktu yang tepat dan meninggalkan kenangan yang begitu sederhana, tetapi sulit dilupakan.

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy