Menuju Indonesia Emas 2045, Kemenpar Fokus Bangun SDM Pariwisata

Menuju Indonesia Emas 2045, Kemenpar Fokus Bangun SDM Pariwisata

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mulai tancap gas mencetak SDM pariwisata berdaya saing global melalui penguatan peran Politeknik Pariwisata. Langkah ini menjadi bagian penting menuju visi besar Indonesia Emas 2045. Kolaborasi lintas sektor pun diperkuat untuk memastikan lulusan siap menghadapi industri dunia.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) makin serius menyiapkan sumber daya manusia (SDM) pariwisata yang siap bersaing di level global. Lewat Rapat Koordinasi Politeknik Pariwisata (Poltekpar), Kemenpar menegaskan langkah besar untuk mempercepat transformasi pendidikan vokasi agar selaras dengan kebutuhan industri.

Dalam keterangan resmi Kemenpar, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, Martini M. Paham, menyebut langkah ini menjadi bagian penting dalam membangun fondasi SDM unggul menuju visi besar Indonesia Emas 2045. Rapat yang digelar pada 8–10 April 2026 di Jakarta tersebut menjadi titik krusial untuk memperkuat kolaborasi antar Poltekpar di seluruh Indonesia.

ā€œIni bukan sekadar rapat koordinasi biasa, tapi langkah strategis untuk memastikan pembangunan SDM pariwisata berjalan terarah, terukur, dan berdampak nyata,ā€ ujar Martini, yang akrab disapa Diah, dalam keterangan resmi Kemenpar.

Dalam skema besar ini, Poltekpar diposisikan sebagai motor penggerak utama pendidikan vokasi pariwisata yang inovatif, adaptif, dan berdaya saing global. Fokusnya tidak lagi sekadar teori, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.

Kemenpar mendorong penyelarasan kurikulum berbasis industri atau industry-based curriculum, agar lulusan Poltekpar tidak hanya siap kerja, tetapi juga langsung relevan dengan kebutuhan pasar. Pendekatan job matching menjadi kunci utama agar tidak ada lagi kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Tak hanya itu, penguatan juga dilakukan dari sisi tata kelola dan kebijakan pendidikan. Mulai dari peningkatan kualitas penelitian, pengabdian masyarakat, hingga pengembangan sistem yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap perubahan industri pariwisata global.

Menariknya, langkah ini juga diperkuat dengan kolaborasi internasional. Salah satunya melalui program Sustainable Tourism Education Development (STED) yang telah berjalan sejak 2018 bersama Swisscontact. Program ini menghadirkan sistem pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), magang terstruktur, serta peningkatan kompetensi pengajar.

Hasilnya mulai terlihat. Lulusan Poltekpar kini dinilai semakin kompeten dan memiliki koneksi yang lebih kuat dengan industri pariwisata, baik di dalam maupun luar negeri.

Di sisi lain, Kemenpar juga menyoroti pentingnya peran dosen dalam mencetak SDM unggul. Melalui regulasi terbaru, yakni Permendikti Saintek Nomor 52 Tahun 2025, sistem karier dosen diperkuat dengan pendekatan berbasis kinerja dan kompetensi. Bahkan, rencana pembentukan task force khusus tengah disiapkan untuk mempercepat pengembangan karier tenaga pendidik di lingkungan Poltekpar.

Tak berhenti di pendidikan formal, Kemenpar juga mendorong lahirnya wirausaha baru di sektor pariwisata. Kerja sama dengan Kementerian UMKM menjadi langkah konkret untuk menjadikan Poltekpar sebagai pusat kewirausahaan melalui program co-incubation, living lab, hingga business matching.

Langkah ini dinilai penting, mengingat sektor pariwisata tidak hanya bergantung pada destinasi, tetapi juga pada kualitas SDM yang mengelolanya. Dengan pendekatan menyeluruh, mulai dari pendidikan, industri, hingga kewirausahaan—Kemenpar optimistis Indonesia mampu mencetak talenta pariwisata yang kompetitif di kancah global.

Rapat koordinasi ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kementerian terkait, akademisi, hingga mitra internasional. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mempercepat lahirnya kebijakan yang lebih implementatif dan berdampak langsung.

Dengan strategi yang semakin terarah, Kemenpar menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya membangun destinasi wisata, tetapi juga menyiapkan manusia di baliknya. Karena pada akhirnya, kualitas SDM adalah kunci utama untuk membawa pariwisata Indonesia naik kelas di mata dunia.

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy