EPS1. Dolo Oseng : Lahirnya Si Perajut Mimpi

EPS1. Dolo Oseng : Lahirnya Si Perajut Mimpi

Semua keluarga punya satu hari yang nggak pernah benar-benar mereka lupakan. Bagi keluarga Oseng, hari itu bukan saat membeli rumah baru, bukan pula saat punya kendaraan pertama. Hari yang paling sering diceritakan justru dimulai dari sebuah siang yang terik di Desa Randuasri, ketika seorang bayi bertubuh mungil lahir sambil membawa kepanikan dan cerita yang kelak tidak pernah habis untuk dikenang

Ada tiga hal yang selalu berhasil bikin Ayah Dolo panik.

Pertama, dompet hilang.
Kedua, Ibu Dolo bilang, ā€œMas, kita ngobrol bentar.ā€
Dan yang ketiga…
Hari ketika Dolo lahir.

Siang itu Desa Randuasri sedang panas-panasnya. Matahari menggantung tepat di atas kepala seolah lupa cara bergerak. Jalanan tanah terlihat bergetar karena hawa panas, ayam-ayam memilih berteduh di bawah pohon mangga, sementara kambing milik Pak RT bahkan malas berdiri. Kalau saja mereka bisa pesan es kelapa muda, mungkin dari tadi sudah antre.

Di Rumah Bersalin Bidan Sumi, suasananya jauh berbeda. Kipas angin tua di langit-langit berputar pelan sambil mengeluarkan suara nggrr... nggrr... yang lebih keras daripada anginnya sendiri. Di sudut ruangan, aroma minyak kayu putih bercampur dengan bau obat-obatan yang khas. Sementara di teras depan, ada satu orang yang sejak tadi tidak bisa diam.

Namanya Pak Arto. Calon ayah yang sedang menunggu kelahiran anak keduanya.

Kalau langkah kakinya dihitung sejak pagi, mungkin sudah cukup buat pulang-pergi ke ujung Desa Randuasri beberapa kali. Lima langkah ke kiri, berhenti, melihat jam tangan, menghela napas, lalu kembali lagi ke arah sebaliknya. Begitu terus seperti kaset yang diputar berulang.

Bidan Sumi sampai geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.

"Pak Arto, duduk dulu. Yang mau lahiran itu istrinya, bukan ubin rumah saya."

Pak Arto memang akhirnya duduk, tapi cuma sebentar.

Lima detik kemudian beliau berdiri lagi.

Namanya juga calon bapak. Mau disuruh yoga atau meditasi sekalipun, tetap saja pikirannya ke mana-mana.

Lalu...

Tangisan bayi akhirnya memecah siang yang panas itu.

Suara yang sederhana, tapi cukup membuat wajah Pak Arto langsung berubah. Semua rasa cemas yang sejak pagi menumpuk mendadak hilang begitu saja. Ia buru-buru masuk ke ruang bersalin, bahkan nyaris lupa kalau sandal sebelah kirinya masih tertinggal di depan pintu.

Di atas ranjang, Bu Chi tersenyum lelah sambil menggendong seorang bayi laki-laki bertubuh mungil. Pipinya merah karena menangis, rambutnya masih tipis, ada lesung pipi di sebelah kanannya, sementara kedua tangannya mengepal rapat seolah baru saja memenangkan pertandingan hidup pertamanya.

Pak Arto mendekat pelan. Lama sekali ia memandangi wajah anaknya tanpa berkata apa-apa.

"Badannya memang sedikit lebih kecil dibanding bayi lain," ujar Bidan Sumi sambil tersenyum. "Tapi sehat."

Aneh memang.

Kadang dua kata sederhana seperti 'tapi sehat' bisa menghapus seribu kekhawatiran di kepala orang tua.

Pak Arto langsung mengangguk lega. Baginya, ukuran tubuh bukanlah masalah. Yang penting anaknya lahir sehat, ibunya juga sehat. Sisanya bisa dipikir belakangan.

Dan ternyata...

Masalah berikutnya datang jauh lebih cepat daripada yang ia bayangkan.

Namanya.

Kalau ada satu hal yang sering membuat pasangan suami istri lupa kalau mereka sedang akur, mungkin itu adalah memilih nama anak.

Bu Chi sudah punya nama favorit sejak beberapa bulan terakhir. Menurutnya, nama "Dolah" terdengar gagah sekaligus ramah. Alasannya sederhana, itu adalah nama aktor sinetron favoritnya waktu muda. Sementara Pak Arto datang dengan usulan yang tidak kalah serius. Ia ingin anak laki-lakinya diberi nama "Ali", terinspirasi dari petinju idolanya yang dianggap pemberani, tangguh, dan pantang menyerah.

Perdebatan kecil pun dimulai.

Untungnya Rumah Bersalin Bidan Sumi tidak menyediakan ring tinju.

Kalau tidak, mungkin pertandingan pertama hari itu bukan tangisan bayi, melainkan adu argumen soal nama.

Bidan Sumi yang sejak tadi pura-pura sibuk merapikan peralatan hanya bisa menahan senyum. Sudah bertahun-tahun membantu persalinan, tapi urusan memilih nama memang hampir selalu menjadi hiburan gratis.

Setelah saling mempertahankan pendapat beberapa menit, akhirnya Bu Chi menghela napas lebih dulu.

"Ya sudah, cari jalan tengah saja."

Pak Arto mengangguk setuju.

Entah ide itu datang dari mana, tiba-tiba nama Dolo keluar begitu saja.

Mereka saling mengulangnya beberapa kali.

"Dolo."

Pendek, mudah diingat, terdengar akrab.

Dan yang paling penting, keduanya sama-sama suka.

Semua mengira urusan selesai.

Sampai Pak Arto kembali mendapat sebuah ide.

Kalau mengenal beliau lebih lama, satu hal yang perlu dipahami adalah ini: ide-idenya sering muncul di waktu yang tidak terduga.

"Kalau nama belakangnya... Oseng gimana?"

Bu Chi menoleh pelan.

"Oseng?"

"Iya."

"Kenapa?"

Pak Arto mengangkat bahu.

"Lucu."

"Itu aja alasannya?"

"Iya."

Bidan Sumi akhirnya benar-benar tertawa.

Bu Chi sempat menggeleng sambil ikut tersenyum. Di rumah mereka memang begitulah. Hal-hal serius sering kali selesai dengan alasan yang sama sekali tidak serius. Dan sejak hari itu, seorang bayi mungil resmi diberi nama...

Dolo Oseng.

Nama yang kelak akan dikenal banyak orang.

Bukan karena ia anak paling pintar. Bukan pula karena paling berbakat.

Melainkan karena ia hampir tidak pernah kehabisan rasa penasaran, dan kisah pun akan bermula dari sini.Ā 

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy