Di tengah tekanan global yang kian tak menentu, sektor pariwisata Indonesia menghadapi ujian serius menuju target ambisius tahun 2026. Namun alih-alih mundur, pemerintah justru mengambil langkah agresif dengan merombak strategi demi menjaga performa industri yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional ini.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana , menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam menghadapi berbagai gejolak global. Dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI , ia memaparkan bahwa fokus utama tahun 2026 adalah menjaga pariwisata tetap tangguh, adaptif, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Strategi yang disiapkan tidak sekadar bertahan, tetapi juga meningkatkan kualitas pariwisata nasional. Pemerintah kini menaruh perhatian besar pada aspek keselamatan wisata, mulai dari pelatihan dan sertifikasi pemandu wisata hingga pemetaan destinasi rawan bencana. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan wisatawan di tengah meningkatnya kesadaran akan keamanan perjalanan.
Tak hanya itu, penguatan lebih dari 6.200 desa wisata menjadi bagian penting dari arah baru kebijakan. Melalui pendampingan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal, desa wisata diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi berbasis komunitas yang berkelanjutan.
Namun tantangan terbesar datang dari luar negeri. Konflik geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada industri penerbangan global. Penutupan wilayah udara Iran menyebabkan ratusan penerbangan ke Indonesia terganggu, yang berpotensi menghilangkan puluhan ribu kunjungan wisatawan mancanegara serta triliunan rupiah devisa.
Di saat bersamaan, lonjakan harga energi dunia turut memperparah situasi. Kenaikan harga minyak yang signifikan memicu mahalnya biaya transportasi udara, membuat perjalanan internasional menjadi lebih terbatas bagi wisatawan.
Menghadapi kondisi tersebut, Kementerian Pariwisata memilih untuk tidak bergantung pada pasar lama. Strategi baru pun disiapkan dengan melakukan āpivot pasarā ke kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan wilayah dengan jarak tempuh menengah. Pendekatan ini dinilai lebih realistis di tengah kondisi global yang tidak stabil.
Selain itu, promosi digital diperkuat secara masif untuk menjangkau wisatawan internasional. Program seperti Wonderful Indonesia Gastronomi, Wellness Tourism, hingga digitalisasi melalui Tourism 5.0 terus didorong agar Indonesia tetap kompetitif di pasar global.
Pemerintah juga berupaya mengoptimalkan wisatawan domestik sebagai penopang utama. Kampanye wisata nusantara dan penyelenggaraan event lintas daerah menjadi strategi untuk menjaga tingkat hunian destinasi wisata di dalam negeri tetap stabil.
Dukungan lintas sektor pun menjadi kunci. Pemerintah mendorong kebijakan strategis seperti penambahan kapasitas penerbangan, insentif maskapai, hingga wacana bebas visa untuk negara potensial seperti Tiongkok dan Australia. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan dan pertumbuhan sektor pariwisata.
Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh P Daulay , mengapresiasi langkah adaptif yang dilakukan pemerintah. Namun ia juga menekankan pentingnya penguatan konektivitas dan pergerakan wisatawan domestik sebagai penyangga utama di tengah ketidakpastian global.
Dengan berbagai strategi yang disiapkan, pemerintah optimistis target 16 hingga 17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun 2026 tetap dapat dicapai. Di tengah badai global, pariwisata Indonesia justru ditantang untuk menjadi lebih kuat, inovatif, dan berdaya saing tinggi.